BIGtheme.net http://bigtheme.net/ecommerce/opencart OpenCart Templates

KENDURI PUISI: Diskusi Sastra “Di Kota Tuhan” karya Steby Julionatan

Di Kota Tuhan, Buku Puisi Rasa Travelling

Saya pernah menemukan sebuah novel yang ditulis menyerupai sebuah kitab suci dalam buku Alkudus garapan Asep Syaeful Anwar. Kemudian, akhirnya saya menemukan versi puisi yang ditulis menyerupai ayat-ayat dalam kitab suci dalam buku karya mas Stebby Julionatan ini. Persamaan keduanya adalah sama-sama mengangkat Tuhan sebagai sentral, walau dalam Di Kota Tuhan penulis agaknya mengambil ragam tema yang cukup lebar dengan memasukkan unsur-unsur kenangan pribadi dan memadukannya dengan peristiwa politik. Saya cenderung setuju dengan pendapat Oka Rusmini di pengantar buku ini. Di Kota Tuhan masih harus berjuang menemukan posisinya dalam belantara sastra Indonesia karena adonan puisi dan prosa di dalamnya masih bercampur lekat dan saling berlomba untuk tampil ke pentas.

Remukkan aku, Tuhan | Remukkan aku | hingga taat tanpa tapi | dan patuh tanpa nanti (hlm. 55)

Di Kota Tuhan disusun menyerupai larik-larik ayat suci dalam Alkitab. Terbagi menjadi Midrash Pertama dan Midrash Kedua, buku kumpulan puisi ini tersusun total atas sekitar 45 puisi. Bagian pertama ditulis antara tahun 2015 – 2016 sementara bagian kedua tahun 2017. Stebby mungkin hendak mengunakan konsep turunnya wahyu yang datang secara bertahap. Hey, tapi bukannya menulis puisi juga butuh inspirasi yang memang sepersepuluhnya wahyu bukan. Kemudian, saat membaca judul-judul puisinya, nyatalah bahwa buku ini lebih dari sebuah buku puisi yang beraroma religi semata. Malah pada sebagian besarnya, kita akan temukan cara si penulis berbagi kenangan asmara, juga kenangan akan masa kecilnya. Di sela-sela itu, sedikit percik politik turut mengemuka bersama sejumlah peristiwa besar yang pernah mewarnai diorama politik negeri ini.

Hal lain yang menarik adalah Probolinggo yang oleh Stebby dijadikan sebagai satu-satunya setting di seluruh isi buku ini. Saya sangat suka dengan karya sastra yang fokus ke daerah lokal tertentu, terutama kota-kota yang jarang tersentuh oleh puisi. Seperti mas Kiki Sulistyo yang mengangkat lokalitas Ampenan, Stebby menggunakan kota kelahirannya sebagai sumber inspirasi sekaligus sebagai rangka untuk membangun Di Kota Tuhan. Lewat sejumlah tempat yang ada di kotanya, dia menyampaikan apa yang terlintas dalam pemikirannya. Kemudian, ditambahkannya sedikit kenangan lampau yang sempat singgah di tempat-tempat tersebut. Dan sebagai sentuhan akhir, diselipkan potongan-potongan dari kisah Alkitab. Tidak lupa ia melapisi kesemuanya dengan diksi dan rima yang nyaman diikuti.

Pengalaman membaca puisi-puisi di buku ini semakin intens dengan adanya potret-potret yang menghiasi hampir setiap halamannya. Potret-potret yang sebenarnya sangat sederhana, semata cuplikan dari adegan-adegan keseharian dan tempat-tempat lokal di Probolinggo yang mungkin terlewatkan oleh mata kita saking umumnya. Tetapi Stebby mampu menggunakannya sebagai pendamping visual atas puisi-puisinya yang bergerak cepat dan gegas. Kita jadi bisa beristirahat sejenak memandang foto sebuah taman setelah diajak penulisnya menyelusuri sepotong kenangan muram atau diajak diskusi penulisnya terkait sebuah pengalaman politik. Saya suka bagaimana foto-foto yang bisu ini jadi memiliki semacam suara-suara dengan mendampingkannya bersama puisi.

“Nak, minumlah,” | sepulang sekolah Mama selalu siap dengan susu. | “Sebab kau butuh banyak kalsium untuk menjaga kokoh cintamu.” (hlm. 22)

Saya mendukung pilihan Stebby yang memilih hanya foto-foto dari Probolinggo dan kawasan di sekitarnya di buku ini. Upayanya mengangkat kota kelahirannya dibuktikan dengan konsistensinya menggunakan foto-foto yang sangat lokal. Penulis tidak tergoda menggunakan foto-foto epic (yang memang akbar tapi sayangnya kadang terasa jauh sekali dari pembaca) dan memilih foto-foto sederhana semacam gang depan perumahan padat atau bahkan komik surga-neraka. Sederhana tapi mengena. Sayangnya, foto-foto di buku ini dicetak dengan kualitas yang kurang tajam. Banyak warna-warni yang ikut hilang karena tertutup bias keputihan atau malah tergusur oleh latar yang gelap. Seandainya tintanya lebih tajam, saya yakin potret-potret ini memiliki sudut-sudut tegas yang akan mampu lebih berbicara meskipun dicetak hanya dengan tinta hitam dan putih.

Hanya ada satu kata: Kenang! |Dan, semoga doaku, cukup layak untuk menjangkaumu. (hlm. 52)

Akhirnya, menyimak puisi-puisi Di Kota Tuhan ibarat berziarah ke sudut-sudut Probolinggo sambil mengenang segala yang sempat terjadi di negeri ini. Membaca buku ini menghadirkan kesan sebagaimana saat kita membaca buku travelling, dengan sentuhan sejarah dan tema-tema agama yang cukup kental. Saya masih merasakan adanya sedikit kegamangan, semacam tarik ulur antar elemen di dalamnya yang menjadikan buku ini belum murni buku puisi seutuhnya. Saat menelurusi baris-barisnya, saya ditarik ke kanan oleh kenangan, lalu ditarik ke depan oleh doktrin alkitab, dan dipukul di belakang oleh nada larik puisi. Sebuah pengalaman yang membingungkan sekaligus layak didapatkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *